
Bismillahirohmanirohim………………..
Alloh SWT menciptakan manusia berbeda dengan makhluk ciptaanNya yang lain. Manusia disebut sebagai makhluk yang paling sempurna, karena selain fisik yang kuat, juga dibekali hati dan akal yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa manusia dibekali 3 unsur yang fundamental, yaitu Jasad, Akal dan Qalbu.
Berbeda dengan penciptaan malaikat yang diciptakan dari cahaya, malaikat hanya diberikan keimanan dan ketaatan kepada Robb-Nya. Malaikat senantiasa bertasbih dan mengagungkan Asma Alloh SWT.
Sedangkan manusia (An-nas) adalah makhluk Allah yang diciptakan sebagai sosok khalifah dimuka bumi ini, karenanya dengan semua bekal tersebut manusia ada kalanya ketika akal fikirannya unggul maka kedudukan manusia akan berada diatas malaikat Allah namun ketika hawa nafsunya yang menjadi raja atas diri manusia kedudukannya tidak lebih dari hewan ato bahkan lebih rendah dari pada hewan itu sendiri.
Diantara akal dan nafsu manusia yang saling bertentangan manusia juga dibekali qolbu sebagai penyeimbang, sehingga baik buruknya qolbu manusia bisa ditentukan oleh perilaku manusia, dari setiap perilaku yang dikerjakan manusia setiap hari akan menghasilkan suatu bentuk kepribadian, dalam kepribadian tersebutlah ciri khas dari manusia akan terlihat. Selama menjalani kehidupan didunia hati manusia akan mengalami perubahan dari keadaan keruh menjadi jernih.
Sebagaimana Firman Alloh SWT “Fahal hamaha fujuroha wataqwaha“, bahwa manusia diberikan dua potensi yakni fujur (keburukan) dan taqwa (kebaikan), maka jika segala amal berujung buruk maka pastinya diniatkan dengan niat buruk dan diamaliyahkan dengan buruk pula, sedangkan jika berujung kebaikan/mashlahat pastinya diniatkan secara baik dan diamaliyahkan dengan cara baik pula.
Ada 2 potensi dalam diri manusia, antara lain :
- Potensi melakukan Salah dan Benar. Di dalam perjalanan hidup manusia ada beberapa pilihan yang harus ditentukan oleh setiap manusia itu sendiri, bertingkah laku dalam kebaikan atau keburukan. Alloh SWT. telah memberikan bekal akal dan nafsu bagi setiap manusia, sekarang bergantung kepada manusianya, lebih mempergunakan hati sebagai perilakunya ataukah hanya memperbesar nafsunya saja dalam memenuhi tuntutan hidupnya.
- Potensi Taqwa, yaitu tunduk patuh dan taat kepada sang pencipta, Alloh SWT. Selain potensi untuk menentukan langkah hidup di keduniawian, manusia juga diberikan bekal potensi taqwa dalam dirinya. Tak ada alasan lain bagi manusia untuk tidak berlaku tunduk patuh kepada Tuhan Sang Pencipta yaitu Alloh SWT. karena potensi untuk ke arah taqwa sudah ditanamkan dalam diri manusia sejak ia kecil yakni semenjak ruh ditiupkan kedalam jiwanya. Jiwa manusia tersebut telah mengadakan perjanjian dengan Robb-Nya untuk beriman dan taat kepada Alloh SWT.
Macam-Macam Nafsu
Pembagian nafsu secara garis besar, ada dua:
Pertama, terdiri dari delapan tingkatan yang ditempuh oleh diri atau nafsu manusia:
1. Nafsu ammarah : nafsu yang selalu mendorong untuk berbuat sesuatu di luar pertimbangan akal yang tenang, sehingga tidak mampu membedakan mana yang benar mana yang salah, mana baik mana buruk. Nafsu amarah cenderung mendorong manusia untuk melakukan perbuatan keji dan rendah.
Keberadaan nafsu ini disebutkan dalam Al Qur’an Srt. Yusuf ayat 53 yang bermakna:
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Sifat orang yang mempunyai nafsul amarah antara lain mudah marah, sombong, takabbur, tamak, kikir , dengki dan hasud, sering memperturutkan keinginan syahwat secara berlebihan.
2. Nafsu lawwamah : nafsu yang sudah punya kesadaran, sehingga seseorang yang (terlanjur) berbuat salah atau tercela, akan tersadar, lalu menyesali diri atau merasa berdosa. Nafsu ini berdiri di simpang jalan antara ammarah dan muthmainnah.
Keberadaan nafsu ini disebutkan dalam QS. Srt. Al Qiyamah ayat 2 yang bermakna :
…. dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)
Pada tingkatan ini seseorang akan menyesali perbuatan buruknya, dia sering merenung dan mengkritik semua perbuatannya yang keliru. Selanjutnya dia berusaha agar perbuatan buruk yang telah dilakukan tidak terulang lagi.
3. Nafsu Muthmainnah : nafsu yang telah didominasi dan dikuasai oleh iman lantaran sudah begitu masak oleh pengalaman dan gemblengan badai derita, sehingga mampu dan terampil memilah yang haq dari yang batil, dimana yang terakhir ini akan terpental dengan sendirinya. Di segala situasi, baik dalam duka derita maupun dalam suka cita, nafsu ini tetap dingin dan tenang. Atau dengan bahasa Buya Hamka, ia punya dua sayap: sayap sabar (di cuaca kelam dan kesulitan) dan sayap syukur (disaat jaya dan makmur). Di sini perlunya iman dan Dzikir.
Dalam QS Srt. Al fajr 27-31 yang bermakna :
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.
Orang yang telah mencapai tingkat ini jiwanya jadi tenang, penuh rasa tawakkal, ridho dengan semua ketetapan Allah, tidak disentuh rasa duka, sedih dan cemas.
4. Nafsu Mulhammah : unsur jiwa yang menerima ilham dari Tuhan, misalnya berbentuk ilmu pengetahuan.
Keberadaannya disebutkan dalam QS. Srt. Asy Syam ayat 7-10.
dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Orang yang telah mencapai tingkatan ini telah mampu mengendalikan dirinya dari keingainan nafsu yang rendah. Ia bisa membedakan yang hak dan batil. Ia selalu menjaga dirinya dari melakukan perbuatan tercela dan selalu berusaha untuk meningkatkan iman dan taqwanya. Berusaha mengerjakan amal soleh sebanyak banyaknya.
5. Nafsu Musawwalah : nafsu yang bebas melakukan apa yang dimauinya tanpa peduli nilai aktivitasnya itu, kendatipun sudah mampu membedakan mana yang haq dan mana yang batil.
6. Nafsu radhiyah: unsur jiwa yang menginsafi apa yang diterimanya dan menyatakan rasa syukur dalam menerima ridha Allah.
Orang yang mencapai tingkat ini selalu merasa puas dengan apa yang diterimanya dari Allah. Bagi mereka sama saja kejadian baik maupun buruk yang menimpanya. Hatinya tidak terpengaruh oleh kehidupan dunia. Mereka selalu kembali pada Allah dan ridho dengan semua keputusan-Nya.
7. Nafsu mardhiyah: nafsu yang senantiasa pasrah akan ridha Allah.
Tingkat ini lebih tinggi daripada Nafsul Radhiyah. Ia adalah orang yang sangat dekat dan dicintai Allah. Merekalah yang dimaksud oleh salah satu hadist Qudsi:
“Senantiasa hambaku mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan ibadah ibadah sunah hingga AKU cinta padanya. Maka apabila AKU telah mencintainya, jadilah AKU pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, perkataannya yang dengan ya ia berkata kata, jadilah aku tangannya yang dengannya ia berbuat, jadilah aku kakinya yang dengannya ia melangkah, dan akalnya yang dengannya ia berfikir”
8. Nafsu kamilah: unsur jiwa yang telah memiliki kesempurnaan, baik kulit maupun isi, lahir atau batin, luar dan dalam.
Ini adalah tingkatan para Nabi dan Rasul, manusia suci dan sempurna, yang selalu berada dalam pengawasan dan bimbinganNya. Terpelihara dari perbuatan yang tercela.
Kedua, berupa sepuluh rupa nafsu (jiwa atau sifat tercela) yang mendekam dalam diri manusia, sehingga sekuat mungkin harus dijinakkan dan (kalau perlu) digilas. Nafsu itu umpama “Medan Magnet” ia akan terus menarik diri kita kedalam area yang pada akhirnya akan membuat kita hina dihadapan Alloh SWT.
Tidak saja akan berpengaruh terhadap diri pribadi kita saja, namun nafsu-nafsu negatif yang dibiarkan tanpa ditundukkan itu akan berakibat buruk pada sekitar kita. Kita bisa melihat betapa kerusakan yang diakibatkan oleh nafsu negatif yang bersembunyi didalam hati manusia, menyebabkan kerusakan akhlaq secara meluas.
- Nafsu kalbiyah: Sifat anjing, yang perwujudannya antara lain suka memonopoli sendiri.
- Nafsu himariyah: jiwa keledai, yang pandai memikul namun tidak mengerti secuil pun apa yang dipikulnya. Dengan kata lain, ia tak memahami masalah.
- Nafsu sabu’iyah: jiwa serigala (suka-suka menyakiti atau menganiaya orang lain dengan cara apa pun).
- Nafsu fa’riyah: nyali tikus, sebangsa merusak, menilep, atau semacamnya.
- Nafsu dzatis-suhumi wa hamati wal-hayati wal-aqrabi, yaitu jiwa binatang penyengat berbisa sebagai ular dan kalajengking. (Senang menyindir-nyindir orang, menyakiti hati orang, dengki, dendam, dan semacamnya).
- Nafsu khinziriyah: sifat babi, yakni suka kepada yang kotor,busuk, apek, dan yang menjijikkan.
- Nafsu thusiyah: nafsu merak, antara lain suka menyombongkan diri, sok aksi, berlagak-lagu, busung dada, dan sebagainya.
- Nafsu jamaliyah: nafsu unta (tak punya rasa santun, kasih sayang, tenggang rasa sosial, tak peduli kesusahan orang, yang penting dirinya selamat dan untung).
- Nafsu dubbiyah: jiwa beruang. Biarpun kuat dan gagah, tapi dungu.
- Nafsu qirdiyah: jiwa beruk alias munyuk atau monyet (diberi ia mengejek, tak dikasih ia mencibir, sinis, dan suka melecehkan/memandang enteng).
Insya Allah dengan hati yang bersih dan jernih kita bisa meraih kemenangan dunia dan akhirat. Menjalani hidup berbahagia didunia dan akhirat, tidak ditimpa kesedihan dan duka yang berlarut larut. Kelak ditempatkan Allah di taman syurga yang abadi dan hidup kekal selamanya disana.
Ya Allah kami berlindung padaMu dari tergelincir, tersesat, berbuat aniaya, dizalimi, bodoh dan dibodohi. Amin Allohuma Amin
Semoga bermanfaat..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar